Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI bersama International Creatives Exchange (ICE) menggelar acara Trade Indonesia bertajuk “Inklusi Keuangan Syariah bagi Usaha Mikro Kecil Go To Export” pada Jumat, 12 Desember 2025, di Istana Al Barkat, Jakarta. Kegiatan ini menyoroti masih rendahnya pemanfaatan keuangan syariah di Indonesia serta peluang penguatannya melalui kerja sama dengan Pakistan.
Asisten Deputi Peningkatan Inklusi Keuangan Kemenko Perekonomian, Erdiriyo, menyebutkan bahwa pemanfaatan keuangan syariah di Indonesia baru sekitar 13 persen, tertinggal jauh dibandingkan Pakistan yang telah lebih luas menerapkannya. Karena itu, menurutnya, Indonesia perlu menggandeng pihak-pihak potensial seperti ICE yang dipimpin Atta Ul Karim, yang aktif dan dekat dengan para pengusaha Pakistan.
Erdiriyo juga menyinggung kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Pakistan baru-baru ini sebagai momentum untuk bergerak. Dalam kunjungan tersebut, Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menandatangani sejumlah kesepakatan, termasuk di bidang ekonomi yang diwakili Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Ia menilai langkah konkret di lapangan akan selaras dengan kesepakatan tersebut dan mendapat dukungan penuh dari instrumen pemerintah di bawahnya.
Sementara itu, Founder & Global Head ICE, Atta Ul Karim, menjelaskan bahwa Trade Indonesia merupakan program ICE yang dikhususkan untuk sektor perdagangan dan terpisah dari program ICE lainnya. Melalui platform Trade Indonesia, para pelaku usaha, termasuk UMKM, dipromosikan secara gratis untuk menembus pasar luar negeri.
Acara ini turut dihadiri Minister Trade & Investment Kedutaan Besar Pakistan di Jakarta, Naseem Rashed, Ketua Komite Bilateral Pakistan dan Afghanistan KADIN Indonesia, Mufti Hamka Hasan, serta perwakilan BJB Syariah, PNM, Askrindo Syariah, Jamkrindo Syariah, dan Biro Perekonomian Provinsi DKI Jakarta.





